Sekilas cerita tentang percobaan
pembuatan pelet apung yang saya ketahui. Untuk mulai mencoba membuat
pelet apung saya membeli alat mesin bekas di pasar templek Blitar. Mohon
maklum karena saya tidak punya modal untuk membeli mesin pelet apung,
jadi saya mencoba untuk merakitnya sendiri. Tahapan membuat pelet apung
yang saya ceritakan kira-kira kurang bisa lepas dari proses Pencampuran ( Mixing ), Pengaliran Uap / Steaming (Conditioning), Pencetakan ( Extruding ), Pendinginan ( Cooling ).
Karena sedikitnya modal, saya mencoba potong kompas, proses yang saya lalui hanya Pencampuran ( Mixing ), Pencetakan ( Extruding ), Pendinginan ( Cooling ) dan hasilnya masih gagal. Disini mau lanjut lagi modal sudah habis. Tapi saya masih yakin tanpa melalui proses Pengaliran Uap / Steaming (Conditioning) pelet masih bisa mengapung.
Lanjut lagi, Proses pencampuran ( mixing
) harus digunakan agar berbagai macam bahan pelet dapat benar-benar
tercampur homogen. Dan sedikit proses yang tidak saya lalui yaitu Pengaliran Uap / Steaming (Conditioning)
atau bahasa mudahnya dikukus, berfungsi agar masing-masing partikel
bahan termodifikasi matang dan mengembanf karena melepaskan gas CO2. Gas
CO2 tersebut yang akan berfungsi sebagai pembuat pori-pori dalam pelet
agar mengapung. Mungkin kalau ada cara lain untuk mengapungkan saya
belum tahu, yang saya ceritakan adalah yang pernah saya coba.
Penambahan Jumlah kadar air kira-kira
yang umum digunakan sekitar 4%-8% tergantung jenis bahan yang digunakan.
Yang penting penambahan air dapat melembabkan bahan penyusun pelet,
bukan basah. Dan agar bahan pelet terbantu mengembang saya memilih
menggunakan Baking Powder atau memakai soda kue. Pernah saya mencoba
memakai ragi saf instan, tetapi ikan nila tidak mau makan karena terasa
kecut, hal ini terjadi karena proses fermentasi dari ragi tersebut. Agar
proses fermentasi berhenti bisa saja dioven tapi saya kurang nyaman
karena khawatir menambah kerusakan nutrisi bahan . Pelet hasil
fermentasi untuk ikan gurami mau makan meski tanpa penambahan minyak
ikan.Ada
juga agar pelet mengapung menggunakan bahan jagung, dengan jumlah
pemakaian
sekitar 10-20 %, logikanya jagung bila terkena panas mengembang seperti
popcorn, saya belum pernah mencobanya.
Dari sinilah saya kurang mantap memilih
pelet apung, pernah ada teman tanya, mengapa kamu coba merakit mesin
pellet apung kalau kurang suka ? saya jawab karena orang lebih suka
mesin mahal, dan dari mahalnya orang lebih yakin manfaatnya. Menurut
saya, logika liniernya memang jalan fungsi pelet apung adalah untuk
mudah dicernakan karena sudah matang dan steril karena sudah melewati
pemasakan. Tetapi seperti ada yang mengganjal, karena rasanya seperti
membuatkan kue untuk ikan, kue itukan flavournya enak,lezat dan pada
umumnya crispy. Tetapi apa benar nutrisinya masih bagus dalam pelet
apung tersebut bila telah melewati berbagai proses pemanasan seperti
dalam proses steaming, extruding dan kadang ada yang masih pasang
pengering oven?. Lepas dari itu semua, menurut saya pelet apung lebih
berfungsi sebagai media pembawa obat atau suplemen, yaitu diberikan
dengan cara disemprotkan atau direndam dalam larutan suplemen atau obat.
Lanjut lagi, bahan pengembang Baking
Powder umumnya digunakan 0,3%-0,4% tergantung bahan penyusun peletnya.
Bahan akan lebih mengembang bila ditambahkan Tepung Terigu Cakra, karena
kadar amilosanya yang rendah dan kandungan glutennya yang tinggi. Dalam
ilmu Kue semakin tinggi kadar gluten maka semakin besar mengembangnya
bahan.
Tahap berikutnya pencetakan ( Extruding
), yang saya ketahui pencetakan menggunakan alat extruder dan tentang
granulator saya belum pernah mencoba. Mungkin kalau ada yang ingin
mencoba membuat alat granulator sederhana bisa memakai mesin bor diberi
mata pengaduk. Kemudian bahan diaduk dalam tabung (Barrel) dengan
posisi horizontal sambil dialiri air, volume air disesuaikan, semakin
banyak air semakin besar bentuk granulnya. Dan agar hasil bulat
sempurna, bahan yang sudah mulai terbentuk keluar tabung langsung masuk
ke rotary dryer. Kemudian di ayak ( screening ) untuk mendapatkan hasil
granul ang diinginkan, kalau terlalu besar digiling lagi.
Lanjut lagi, extruder yang saya ketahui
ada dua macam yaitu tipe roda dan tipe ulir ( screw ), extruder tipe
roda prinsip kerjanya bahan didorong keluar cetakan ( dies ) oleh roda
yang berputar. Sedangkan extruder tipe ulir yaitu membawa bahan kemudian
dipadatkan diujung dies. Bedanya ada proses membawa bahan oleh kerja
ulir, disini kerja ulir akan menghasilkan panas dan tekanan yang tinggi.
Panas dihasilkan oleh kecepatan tinggi kerja ulir yang membawa bahan
bergesekan dengan dinding tabung (barrel). Tekanan tinggi berasal dari
pemampatan bahan yang akan keluar cetakan ( dies ). Karena sudah ada
panas dan tekanan yang tinggi saya tidak menggunakan proses pengaliran
uap. Bahan pellet akan mengembang dengan sendirinya karena panas dan
beda tekanan pada waktu keluar cetakan. Disini kerja ulir yang saya buat
mempunyai kecepatan putaran sekitar 3dtk-5dtk untuk satu kali proses
membawa bahan sampai keluar cetakan.
Pendinginan ( Cooling ) dibutuhkan
karena biasanya kadar air dalam pelet masih tinggi. Saya tidak memakai
pengering ( Oven ) karena khawattir merusak nutrisi bahan pelet, selain
itu pelet akan keras bila di oven. Pendinginan menggunakan tabung yang
di putar agar pengoperasian dapat berkelanjutan, dan kemudian di hisap
oleh vacuum fan agar uap air dapat terambil maksimal. Sebaiknya sebelum
pendinginan disemprot ( fogging ) minyak ikan, karena kadang ikan tidak
mau makan bila tidak ada bau perangsang minyak ikan. Bila ada yang ingin
mencoba merakit mesin pelet perhatikan dan hitung dengan cermat tentang
perkiraan Tenaga dan rasio putaran mesin, bentuk,panjang dan diameter
ulir serta jumlah lubang cetakan.
Sebelum anda mencoba membuat pelet atau
budidaya ikan pastikan budget sudah benar-benar anda siapkan. Karena
kalau bisa jangan seperti yang pernah saya alami, semua usaha
membutuhkan proses, kesabaran dan keuletan kunci sukses usaha anda.
Saran saya pastikan semua aspek bentuk pemasaran produk sudah anda
kuasai, karena yang paling penting konsumen yang menentukan. Buat apa
membuat mesin bila hasil pelet tidak sesuai dengan harapan, contoh
kegagalan yang paling sering terjadi yaitu ternyata pertumbuhan bobot
ikan budidaya tidak sesuai dengan harapan.